Pages

Wednesday, July 07, 2010

Unlimited Cyber ; Chapter 2

2; Lost Markas Angkatan Pusat, 12.50 AM

Jika aku mengingat lagi kejadian itu, mungkin aku akan bertambah buruk.
***



“Ahh…kau itu anak Selatan ya…wah! Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, nak! Sudah lama aku dengar itu, tapi aku kira mereka bercanda!!” komentar Mayjend Plug di ruang rapat yang sudah sepi. “Aku baru bergabung di sana saat semua sudah hangus!”
Aku tertawa memaksa. “Benar. Perang itu bukan untuk diingat!”
“Ah, maaf jika menyinggung! Aku padahal ingin bertanya tentang Perang itu. Maaf, trauma ya?”
“Ah, tak apa. silahkan Tanya apa saja!” aku tersenyum sambil membereskan dokumen.
“Keluargamu? Apakah mereka selamat?” Tanya Mayjend sembari meletakkan dokumennya dan duduk di sampingku.
Keluarga!
“Mereka….” Aku mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Aku… tidak tau”
“Maaf?” Mayjend tidak mengerti.
“Aku tidak tau… aku…lupa”
Aneh! Kepalaku berdengung kencang!
“Ah, mereka mati di sana ya? Maaf, menyinggung perasaanmu.” Mayjend buru-buru meminta maaf. “Aku kira mereka baik-baik saja! Ahya! Tak ada yang selamat kecuali kalian ya?” ia tersenyum getir.
Kepalaku mau pecah. Nafasku cepat. Aneh, kenapa aku tidak mengingat apapun tentang keluarga! Kenapa aku melupakan mereka?
Aku tertunduk lemas di kursi. Kepalaku kutumpukan pada meja. Aku memegang dadaku. Sakit.
“Aku juga, saat aku datang ke sana, semua musnah! Saat kita ingin membantu, wilayah kalian diblokir dan tak ada siapapun yang bisa masuk ke sana. Ya..ya..ya..saat wilayah blokir sudah dibuka, wilayah kalian sudah hancur… lalu….”
Jujur aku tak mendengar lagi. Kepalaku dipenuhi dengunggan dengunggan aneh. Meledakkan kepala dan seluruh tubuhku. Segalanya jadi kabur sekarang. Aku tak bisa melihat apapun lagi.
Aku berdigik.
Ada sebuah bayangan yang melintas di kepalaku. Ibu! Ibu, ya..sedang apa di situ? Ibu, aku melihatmu… Ibu, apa yang terjadi…
“Kau sakit?” Tanya Mayjend akhirnya. Nadanya cemas.
Aku mendongakan kepalaku ke atas dan memegang kepalaku.
“Ah…tak apa” aku mencoba mengendalikan situasi. “Hanya sedikit pusing! Tak ada yang dikeluhkan!”
“Ah…begitukah?” Mayjend tersenyum lega. “Baiklah, bagaimana kalau kau istirahat? Aku akan mengabsenkanmu.” Ia beranjak dari kursinya dan menyambar dokumennya.
“Tidak usah!” aku tersenyum memaksa sambil terus memegang dadaku yang serasa melepuh. “Aku hanya perlu makan dan rileks sebentar”
“Ah begitu…” Mayjend membuka pintu ruang rapat. “…Ohya! Satu lagi!..” ia berhenti sebentar di muka pintu sementara aku terus mencoba bernafas.
“…apa kau tak merasa ada yang janggal dalam perang Selatan? Sepertinya kau kehilangan sesuatu!”
***
“Kau sudah selesai makan belum? Jangan bengong dong!” Amber menggoyangkan tubuhku. “Kau lagi kenapa?”
“Ah… tidak apa-apa…” aku mencoba tersenyum. “Aku hanya merasa sedikit pusing!”
“Pasti kau belum makan pagi ya? Aku juga! Kalau belum makan rasanya otakku seperti ingin meleleh! Ahh… karena itulah…”
“Itulah Felix, selalu berlebihan dan mendramatisir sesuatu!” Megan mencibir sambil melahap sosis. “kau kan yang ada di samping dia saat makan pagi tadi! Dasar pikun!”
“Manusia kan gak ada yang sempurna! Protes aja dari tadi!!” Felix balik menghajar Megan. “Udah deh, jangan ‘mendramatisir sesuatu’”
“Kapan sih kalian akur?” Sara geleng-geleng kepala. “Tak ada hari tanpa pertengkaran kalian”
“Dan tanpa ledek-ledekan kalian pula!!” Amber berkoar dengan mulut penuh omlet. “Pasti ada aja yang heboh!”
“Ah, kau juga heboh dengan bando barumu itu!! Dasar fashonista!” Komentar Saga. “Gak Felix atau Megan, gak kamu, pasti ada aja yang bikin heboh!”
“Ah sudahlah! Yang paling tenang adanya jatuh pada Keyda!!” Amy tersenyum. “Aku berani bertaruh, pasti Felix tak akan bisa setenang Key, walau hanya beberapa menit!!”
“Tapi kok bisa sahabat dekat sih? Apa nyambungnya kalian ya? Aku masih ga habis pikir loh!” komentar Bruno.
“Ahaha…kami punya aturan ‘magis’ saat bersama…iya gak Key?”
Dan Keyda hanya menjawab “Hm…”
Aku tertawa berderai diikuti yang lainnya. Kasihan Felix, sudah bicara dengan menggebu-gebu tapi tetap saja tak dikomentari secara serius oleh Keyda!
Aku tersenym, tapi entah kenapa kepalaku tak bisa ikut bahagia. Masih terasa asing bagiku.
Walau Cuma perasaan, tapi apakah Keyda dari tadi memperhatikanku?
***
Sore adalah saat bersih-bersih!
“Dan juga MANDI!!” aku menegaskan kata ‘mandi’ terhadap Megan sembari merapihkan baju-baju kotor di kamar kami saat inspeksi tempo hari. “Dari inspeksi kemarin, rasanya aku tidak bisa mandi dengan bebas!”
“Yah, begitulah!” Megan menggeleng-gelengkan kepala. “Kau tau, aku merasa beruntung bekerja di Pangkalan pusat! Kalau tidak, aku paling tak tahan dengan kamar mandi di wilayah barat!! Heergh…..” ia bergidik sangking jijiknya. “Pipa-pipa karatan, shower yang ngadat, lantai licin berlumut… mana laki-laki dan perempuan digabung pula…”
“Dan tak ada yang lebih buruk lagi daripada air yang tak keluar karena saluran air pusat rusak lagi!!” aku cepat-cepat menyambar handuk dan berjalan keluar kamar berkasur tingkat itu dengan lesu. “Baiklah, aku duluan ya!”
“Cepat ya, kalau tidak, jatah air akan habis lagi untuk menyiram tanaman di depan!” ia meringis kesal.
Aku berjalan lesu di koridor dan sampai di kamar mandi. Perlahan aku masuk ke dalam dan melongo ke dalam. Untunglah kosong! Bilik-bilik kamar mandi semua terbuka, dan suara air menetes terdengar jelas dan jernih. Catnya yang mengelupas seolah sudah mengetahui jadwal aku berkunjung. Biasanya semua tentara mandi pada malam hari, jadi pada sore hari, kamar mandi akan kosong.
Aku segera menuju wastafel dan membasuh mukaku di sana. Aku berkaca pada kaca buram di depanku. Terlihat diriku yang satunya lagi, memandang satu sama lain. Titik air meluncur turun perlahan, di wajah dan di rambut kami yang pendek seleher.
“Ini kau, Karen Springbell. Lihatlah!” bayanganku seolah-olah berkata.
Aku termangu. Perlahan aku buka kancing kemejaku. Satu..dua..tiga..
Terlihat jelas lambing Reserve Cyberku di situ. Bergambar daun Clover berwarna hijau gelap. Ada di sisi sebelah kanan dadaku.
Aku juga melihat kalung yang biasanya aku pakai. Warna dan bentuknya persis sama. Ini aneh. Dari mana ini berasal? Kenapa aku memilikinya? Apa sebabya? Siapa yang memberikannya?
Andai kalung ini bisa berbicara, aku ingin melayangkan segudang pertanyaan padanya. Dari mana dirimu berasal?
Sepertinya aku mengetahui, tapi, aku lupa.
Apa yang terjadi si perang Selatan pada diriku?!
Berarti aku harus menyelidikinya.

“Ah! Apa sih yang kau lakukan disini?! Seharusnya kau sudah ada di pancuran sekarang dan mandi!!” aku memarahi bayanganku di kaca, dan segera meluncur menuju kamar mandi yang kosong.
***
;Pusat forensik, markas angkatan militer Selatan, 18.48 PM
[pergantian sudut pandang]
“Hai Sneb! Bagaimana keadaan?”
“Lumayan. Di sini benar-benar membosankan ya!” dengau seseorang bernama Sneb tadi. “Mana kopinya? Aku dari tadi hanya bisa temangu nih!””
“Itulah tugas penjaga! Gimana, jadi pulang besok!”
“Ya! Sudah kangen nih sama Adik-adik! Kasihan mereka sendirian terus di sana!” ucap Sneb menerawang sambil menyeruput kopinya.
“Kau, Johan? Bagaimana dengan rencanamu mengunjungi calon ‘pasangan’?” sindir Sneb bercanda.
“Hei, kau mau meledek?” ucap orang yang disebut Johan tadi sambil tersipu malu. “Maaf ya, agaknya aku harus cuti lebih lama! Datang ya nanti ke pernikahanku!”
“Wahh…aku kalah start nih!” Sneb berkata. “Aku saja masih belum ada pacar! Kalau begitu…”
“Hei Sneb, apa itu?” tiba-tiba Johan memotong perkataan Sneb. “Reserve Cyberkah?”
“Mana? Mana?” Sneb berdiri menerawang. “Ah..ya! sedang apa Reserve Cyber kemari senja begini?”
“Entahlah!” Johan menggeleng. “Palingan tugas…”
BLARR!!!
“Serangan! Reserve Cyber tadi menyerang!!” Johan terbelak. “Ia menghantam tembok di sebelah sana!!!” lalu terdengarlah suara hantaman dan ledakan bertubi-tubi. Kedua penjaga itu terbelak beberapa detik, dan mulai mengambil tindakan.
“Johan, buyikan bel. Aku akan menghalaunya duluan!!” Sneb bergegas mengambil posisi di meriam.
“Kau gila? Mana mungkin kau menyerang sendirian?” Johan menghadrik Sneb. “Aku akan membunyikan sirine bersamamu!!”
“Cepat pergi duluan!!” Sneb membentak Johan keras. “Aku akan di…”
BLARRR!!!!!
“Kacau!” Johan berlari kencang dan segera membunyikan sirine.
TIUT…TIUT…
“Sebuah…bukan! Dua buah Reserve Cyber asing melakukan penyerangan!!!” teriak Johan lantang dari menara pengintai. “Segera bentuk formasi bertahan!!!”
Seperti angin ribut, beduyun-duyun tentara mulai membuat tembok pertahanan dan membawa berbagai alat pertahanan. Johan segera berlari ke tempat Sneb untuk menyuruh ia mundur. Ia berlari.
“Sneb! Ayo bergabung saja dengan para tetara lain!” teriak Johan.
Namun tak ada suara yang menyahut.
“Jangan-jangan…” ia langsung berjari dengan cepat. Sekali.
Dan pemandangan selanjutnya tak bisa langsung dijelaskan dengan kata-kata.
Yang terlihat di depan Johan sekarang adalah manusia. Manusia tanpa kepala.
“Maaf..dia ngotot membunuhku sih…jadi kupenggal saja kepalanya!” ucap suara di depannya.
Dan sebelum Johan berkutik, ia pun turut menyusul temannya.
***
“Well… well….” Seorang perempuan muda turun dari Reserve Cybernya. “Apa kita diperintahkan untuk berbuat sampai sejauh ini?”
“Yang penting data tentang Gama Cyber telah kudapatkan!!” ujar temannya sambil membolak balik sebuah map. “Kita tinggal menyerhkannya ke yang mulia.”
“Tapi apakah tidak terlalu terburu-buru?” ujar perempuan tadi bingung. “Aku sampai memenggal 5 orang loh!”
“Apapun yang kita lakukan, mereka yang selamat dan kabur belum sampai bisa mengidentifikasi kita” Temannya itu berucap meyakinkan. “Lagipula, mereka telah berpikir bahwa Scar Path Cyber telah musnah!”
“Ingat” perempuan muda tadi tiba-tiba berkata serius. “Kita tidak bisa mengabaikan Luna dan Tom di sana. Jika mereka mengetahui semua data dari orang-orang tadi…”
“Apa yang akan mereka lakukan?” temannya tadi tersenyum “Mengatakannya ke Mahkamah Militer? Kurasa mereka tak bisa melakukan apaun untuk menghentikan kita!”
“Yakin sekali!” perempuan muda tadi berdecak kagum. “Kurasa kau ada benranya juga. Ohya, apakah salah satu Gama Cyber ada di komplotan Unname sialan itu?”
“Dalam laporan Jamie adanya seperti itu” jawab temannya. “Nah, sebelum tentara dari pusat datang, lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini. Ayo, Sandra!”
“Keyda dan Karen ya?” perempuan muda tadi mengubrak abrik kertas yang didapat dari bank data tentara bagian forensik. “Kurasa ini akan semakin seru saja!”
***

Baru di sini Unlimited Cyber kerasa 'mulai'... terima kasih untuk para pengunjung yang masih setia menunggu hingga sebulan... Kayaknya kami akan ngepost setiap 2 minggu sekali aja, karena ada protes dari salah satu pembaca.
Enjoy it and stay tune in Pleiadestar's blog! :)

0 toughts:

Post a Comment