Pages

Saturday, December 25, 2010

Unlimited Cyber Chapter 12


12. Symbol


; Servidia, Selatan, 03.50 PM
[pergantian sudut pandang]

“Jadilah, kita sendirian yang datang ke mari!!” gerutu Felix kesal.

Aku hanya mendengar ocehan kekesalannya pada Talkie Phone-ku. Jam tiga tadi kami menunggu Squard Karen menyelesaikan tugasnya, namun ternyata mereka masih mempunyai tugas menumpuk yang harus diselesaikan jam 5 sore nanti.


’Sana gih, pergi sendiri saja!’ ucap Megan saat itu, yang membuat Felix sangat kesal.
“Mangkanya jangan sering-sering bolos! Dasar! Kita tuh nunggunya sejam, Key! Sejaaam…” ia berteriak-teriak tidak karuan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.

Aku memandang lagi wilayah Selatan, yang sekarang sudah menjadi padang rumput sejauh mata memandang. Karena Perang Selatan sembilan tahun yang lalu, tempat ini dianggap sudah tidak bisa diolah lagi, karena faktor tanah yang sudah rusak kandungannya dan tingginya kadar Amalgram dan Timbal yang ada di sini. Sempat ada rencana untuk membuat tanah ini menjadi Hutan Lindung, namun tanaman untuk percobaan hutan yang ditanam di sini tak bisa hidup, dan pupuslah rencana itu.

“Jadi seperti kota hantu, ya!” Felix berkomentar dengan nada ngeri. “Apalagi semua mayat yang ada di sini dikubur di sini pula! Aku masih mengingat dengan jelas saat mayat-mayat yang ribuan jumlahnya itu dilempar dan ditumpuk seenaknya lalu dikubur massal pada lubang-lubang yang dibuat militer! Sisanya dibakar dan abunya ditebar di sini! Hii… seperti fiksi novel Dead Day saja ya…”

Aku terdiam. Benar. Saat itu semua korban perang Selatan yag meninggal dikubur dengan massal, mengingat jumlahnya yang sangat banyak dan bergelimpangan di tiap sudut kota. Dan semua mayat-mayat itu mati dengan keadaan yang sama: remuk dan tidak jelas bentuknya. Sampai sekarang, banyak masyarakat yang menganggap itu adalah hal yang janggal, kecuali aku.
Itu semua karena dia. Ya, dia.

“Turun, tidak?” tiba-tiba suara Bruno menyadarkan lamunanku. “Kita turun di titk yang kemarin saja ya!”

“Hei, gimana nih? Leader?” tanya Saga.

Aku hanya mengatakan “Oke”

Lalu aku dan Squard-ku menukik bersama Reserve Cyber kami masing-masing. Aku mendaratkan Snow Angelus dengan mulus, dan turun dengan cepat. Menyapu seluruh pandanganku ke seluruh penjuru.

“Kan, tidak ada apa-apa! Yang ada hanya rerutuhan dan puing-puing perang!” Felix berkata sangsi. “Mau menyelidiki yang ada di sana?”

Aku kembali memendang ke segala arah. Di sini benar-benar tidak ada apa-apa.
“Oke, kita ke reruntuhan saja, ya!” Rei melompat keluar dari Brown Spots, Reserve Cybernya. “Reserve Cyber kita tinggal sini saja!”

Tanpa banyak bergerak, kami keluar dri Reserve Cyber masing-masing dan berjalan menuju sisa-sisa reruntuhan rumah penduduk. Aku berjalan dengan lesu, seperti mengulang dan menelan kembali masa lalu. Sakit.

Kami adalah satu-satunya yang masih hidup. Berjalan di sini, sejujurnya, adalah hal yang dari dulu aku hindari. Setiap pijakan kaki di sini, membuat kepalaku seperti dihantam tongkat berduri yang dipukul oleh Sir Alexandria. Secara otomatis, segala kejadian itu seperti berputar-putar layaknya angin ribut di mataku. Semua orang yang mereka temui, tanpa mengenal perbedaan dan peri kemanusiaan, dibunuh dan dicincang-cincang dengan naas. Saat aku berlari menjauh dari mereka, aku dihadang oleh pemutilasian seorang ibu-ibu muda yang melindungi anaknya. Saat aku menjauhi pemandangan tadi, di belakangku terdengar jerit hysteria anak kecil yang merobek malam, yang pada waktu itu melihat adik kecilnya dibelah menjadi dua. Saat aku berlari lagi, aku menemui lagi pemandangan itu, seterusnya, seterusnya, seterusnya.

Hingga aku sukses sampai di rumah, dan melihat ibu yang menemui ajal dengan sama mengenaskannya: meledak.

Aku ingin kabur, namun aku tak bisa, sama sekali. Aku terperangkap dalam kerangkeng kebinasaan, keputusasaan dan ketakutan.

“Aku benci situasi melankonis” Felix secara tiba-tiba berucap muram, memandang tanah yang ada di bawahnya dengan tatapan bengis. “Tapi kalau sampai di sini, aku malah terperangkap di dalamnya”

Kami terdiam. Hening. Aku mengerti kenapa kita terus-terus mengulur waktu saat menunggu Squard Karen menyelesaikan tugasnya: menghindari waktu untuk bertandang ke sini.
“…aku tidak mengerti sih, tapi…” Rei tiba-tiba memecahkan suasana. “…kalau ini terlalu berat untuk kalian, lebih baik kita lanjutkan nanti-nanti saja…”

“Sudah ah! Sudah kubilang aku benci situasi melankonis!” Felix menampar-nampar mukanya sendiri. “Kita di sini kan untuk menyelidiki markas Scar Path Cyber! Bukan mengulang kejadian itu…”

“Jangan menafikkan perasaan kalian” bantah Rei, sekarang berhenti melangkah. “Kalian masih ada trauma, kan?”

Kami terdiam. Aku berhenti melangkah, diikuti oleh Saga dan Bruno. Kami bukan mau menafikkan perasaan kami sendiri, tapi kami ingin lari dari perasaan kami sendiri.
Terdiam, kami menghentikan langkah kami.

“Sudah kubilaaang…kita punya misi di sini…” Felix, yang ada di depan kami sekarang, berteriak nyaring dan terdengar semangat. “Mangka itu…ayo kita lupakan sejenak, seakan kita belum pernah datang ke sini!”

Rei tersenyum, lalu ia berjalan menyusul Felix. Bruno ikut di belakangnya, dan Saga, sebelum melangkah mengejar kedua temanku itu, bergeleng-geleng sejenak dan berbisik “Dasar Felix!”

Aku masih terdiam terpaku, memandang Felix yang sekarang terlihat seperti garis di tengah padang rumput. Itulah caramu lari dari jeratan kelammu. Berpura-pura tidak tau apa-apa dan menceriakan suasana. Mencoba melupakan sakit dengan senyuman dan keriangan.
Cara lari yang kejam.

***


; Servidia, 07.30.PM, 1903
[pergantian sudut pandang]

Aku terbangun.

Pikiranku sadar. Namun tubuhku masih tertidur.

Entah ini di mana, tapi rasanya hangat sekali. Aku sedang ada di atas kasur yang empuk dan diselimuti selimut super tebal dan lembut. Aku mengejap-kejapkan mataku, menggeliat di antara kasur dan selimut enak itu, lalu mulai mengingat-ingat lagi kejadian sebelumnya, sebelum aku terbaring di sini.

Ah! Megan!

Secara serentak aku bangkit dari kasurku. Aku meraba-raba lagi tubuhku. Banyak perban. Aku memandang lagi kedua tanganku. Masih lengkap.

Aku masih hidup?

Ini tak mungkin, sangat tak mungkin.

Aku memandang ke luar. Matahari menyembul nakal dari pegunungan. Pagi subuh.
Aku masih bisa melihat matahari?

“…Felix?”

Aku mendengar namaku dipanggil, lalu berpaling ke arah sumber suara.
“Kau… masih bisa bangun?”

Suara yang aku kenal, familiar.

“Kau hidup?” ucapnya. Nadanya seperti tidak percaya dan terkagum-kagum.

“Err… Megan, ya?” tebakku. Ia masih terpaku pada pintu, menatapku tajam.

Ia mendekatiku perlahan. Sangat pelan. Tubuhnya bergetar-getar dan lesu. Ia mengambil nafas dengan berat saat melihatku, lalu ia duduk di sisi kasur, menatapku dalam. Matanya memancarkan sinar redup yang perlahan bersinar-sinar. Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun entah kenapa dia seperti anak yang baru belajar merangkai kata. Ia menyentuh pipiku, mengusap rambutku, dan menggenggam tanganku. Tangannya bergoyang-goyang dan menggigil. Ia melihatku seperti sebuah keajaiban.

Aku mengerti. Aku mengetahui mengapa ia bertingkah aneh kepadaku. Malam itu…

DEG!

Sakit. Sakit. Sakit. Sakit.

Malam itu, saat itu…

Aku secara tiba-tiba menampik tangannya dengan kasar. Aku memandang selimut dengan tatapan hampa. Jantungku mulai berdebar-debar. Aku mulai menggigil. Malam itu, saat itu…

“Felix?” tanya Megan tiba-tiba.

Sakit, sakit, sakit, sakit.

Saat aku menghadang kerumunan itu, saat aku berteriak-teriak itu, saat aku merasakan kerumunan itu…

“Felix? Kau…” Megan memandangku ketakutan, seakan aku sudah ada di ambang kematian. Ia menggenggamku makin erat, mukanya cemas. Aku menarik tanganku darinya, lalu mulai meringkuk, bergetar-getar dan berayun-ayun sambil menggigil.

Kemarin malam…kemarin malam… malam sebelumnya…sebelumnya…

Kepalaku meletup ledak, menerima apa yang sudah kudapat selama tlima hari. Malam sebelumnya, lalu sebelumnya, lalu sebelumnya. Entah kenapa, aku seperti dikejar-kejar oleh ingatanku, saat robot-robot itu datang pertama kalinya, lalu melumat semua binatang ternak ayah. Lalu ia mengobrak-abrik desa, menghancurkan manusia-manusia dengan sekali injak, dan ia juga menembak-nembaki rumah-rumah, yang membuat orang-orang terlempar jauh dan terkapar hitam gosong. Lalu saat aku melihat ayah dicabik-cabik, ibu yang diserang oleh mereka dan dimakan hidup-hidup, dan…

“HENTIKAAAAAN!!”

Hening.

Secara tiba-tiba, Megan berteriak nyaring sekali, menatapku penuh linangan air mata. Aku tersadar dari ketakutanku, masih terengah-engah dan berdebar kuat. Pundakku naik turun, dan kepalaku sakit sekali.

“Maaf… maaf…” ia meminta maaf dengan terbata-bata.

Aku hanya memandangnya nanar.

“Karena aku…kau…kau seperti ini… Karena janji itu…” ia terisak-isak, membenamkan kepalanya pada selimut super tebal dan lebut yang terhampar di atas kakiku. Ia bergetar-getar hebat, menggenggam tanganku kuat sekali. “Kenapa… kenapa…”

Aku, sejujurnya, tak tau harus berbicara apa.

“Malam itu, kau sudah…tidak bergerak dan penuh darah… aku kira kau sudah mati… mati seperti ibu… hiks…hiks…”

Iya, malam itu aku kira aku juga sudah mati seperti ayah dan ibu.

“Kau berusaha melindungiku… kau berusaha agar mereka tidak meyentuhku, kau berusaha agar aku selamat, kau saat itu, saat itu…”

Sakit, sakit, sakit, sakit.

Kejadian saat itu seperti terulang lagi, dan dia menyiksaku dengan sangat kejam. Lagi, lagi, lagi, aku tak bisa menerima semuanya. Aku ingin teriak, ingin keluar dari sini.

“Kau baik-baik saja sekarang?” tanya Megan, tiba-tiba memandangku.

Tatapan matanya jauh, menatap penuh sakit hati dan luka. Ia masih menggenggamku, masih bergetar dan terisak. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Ia memandangku seperti memandang seseorang yang sangat ia rindukan. Ia memandangku penuh kesakitan, penuh rasa maaf yang besar. Ia menatapku penuh perasaan bersalah. Dan, ia memandangku seakan berbicara ‘jangan pergi lagi’.

Dan akhirnya aku berbohong, “…jika kau baik-baik saja, aku juga…”

***


; Markas Angkatan Pusat, 06.00 PM
[pergantian sudut padang]

“Awas, jangan sampai kertasnya jatuh semua!” Megan mengingatkanku untuk berhati-hati (berhubung aku adalah orang yang ceroboh). Aku hanya mengangguk dan dengan sangat hati-hati mengangkat tumpukan kertas tugas kami. Banyaknya keterlaluan!

”Di sana ada buku ’alien’ itu kan?” tanya Amy sangsi. ”Aku takut bakalan ketauan...”

”Tidak akan...” Sara menepuk bahu Amy bijak. Langkahnya santai dan tenang, tak seperti Amy yang gelisah dan sesekali melihatku dengan khawatir. ”Kita menyelipkan dua buku tebal itu dengan sempurna... tenang saja...”

Amy memadangku cemas, lalu mulai berjalan dengan ’normal’ lagi.

GEDUBRAK!!

Bagus! Aku tertabrak seseorang.

“Hee… kau tidak apa-apa?” tanya suara orang yang kutabrak sambil memberikan tangannya padaku.

”Ah, tidak apa-apa Mayjend... hanya ceroboh...” ucapku menerima tangannya dan langsung membereskan kertas di depan kami yang berceceran. Mayjend Plug langsung ikut membantu. Keempat temanku yang lain menyusun urutan tugas kami untuk diberikan pada Brigjen Slyder.

”Buku itu…” tiba-tiba Mayjend berhenti memungut kertas-kertas dan melihat buku ’alien’ yang tercecer kertasnya di lantai.

Dengan sigap aku membereskan buku itu dan menghilangkannya dari pandangan Mayjend.
”Itu… tugas kami…” Aku mencoba mencari alasan. ”Bukan apa-apa”

Mayjend menatapku dengan tatapan curiga. Lalu ia mulai mengumpulkan kertas-kertas lagi, tanpa suara. Aku memandangnya dengan perasaan ganjil. Ia seperti tau buku itu, dan seperti ingin menegur kami atas buku tersebut.

”Nah, sudah terkumpul semua!” Amy menghembuskan nafas lega. Aku berdiri kembali dan membersihkan seragamku. Mayjend Plug menepuk-nepuk tangannya.
”Tugas kalian tentang apa?” tanyanya tiba-tiba.

Ah!

”Tentang laporan petugas lapangan... tapi kami terus menundanya hingga menumpuk seperti sekarang...” Amber meringis bersalah. ”Tenang, kami akan menerima hukuman, kok...”

”Hoo... bagaimana laporan petugas lapangan? Adakah pemberontakan lagi? Ataukah ancaman dari negri Finndinila?”

”Sejauh ini, tak ada” aku menjawab sambil menghela nafas. ”Baiklah, apa kami bisa pamit sekarang? Sudah lewat dari batas waktu, nih!”

”Hoo... silahkan! Silahkan!” Mayjend buru-buru menyingkir saat tau ia menghalangi jalan kami. Aku dan kawan-kawan memberi hormat dan melangkah pelan menjauhi Mayjend.

”Ohya” tiba-tiba Mayjend mengeluarkan suara, yang membuatku berhenti bergerak di belakang teman-temanku, yang telah melangkah jauh. ”Buku itu buku yang menarik ya, Karen!”

***


; Servidia, Selatan, 06.32 PM
[pergantian sudut pandang]

”Sudah yuuk... Key, pulang…” Felix merajuk di dekatku. “Aku pegal menukik dan berlari terus dengan Pentagon…”
“Kan Pentagon Dexa itu Srigala! Masa’ kau tidak mengetahui karakter Reserve Cybermu sendiri sih?” cibir Saga. “Yang namanya Srigala itu senang berlari dan tak mau diam, sepertimu!”
“Nihil, nih!” Rei menghela nafas berat. “Dari pantauan dan penyisiran kita sudah dapat kesimpulannya: Servidia adalah kota mati.”
Aku mengangguk bersama teman-temanku. Kami tidak menemukan apa-apa di sini. Nihil.
”Berarti kesaksian penduduk tentang Scar Path Cyber itu tak terbukti, kan? Atau masih ada hipotesis lain yang bisa kita uji?” tanya Bruno.
”Bisa saja dia bukan Scar Path Cyber? Atau dia datang bukan dari Selatan yang benar-benar Selatan? Maksudku…” tiba-tiba Felix membuat pendapat.
“Wilayah kumuh di pinggir Sevidia?”
Aku melirik padanya secara tiba-tiba.
“Kok kita tidak ke situ ya? Gimana sih! Gimana sih?” Felix yang langsung sadar akan pemikiranya sendiri menepuk-nepuk kepalanya. ”Tolo! Tolol! Tolol!”
”Bisa jadi usul yang bagus!” Rei memetik jarinya. ”Mendengar ’Selatan’ kita hanya terpaku dengan kawasan ini, sih!”
”Tapi kita tak bisa melakukannya sekarang... sudah malam...” Bruno mengadah pada langit ungu yang sudah mulai menampakkan berlian bintangnya, samar namun indah.
”Iya! Aku mau pulang, dan aku LAPAR!” Felix berteriak kesal. ”Sudah! Pulang pulang pulaaang...”
“Iya iya iya kami tau!” Saga mengerinyit kesal dan melangkah menjauhi kami. ”Ayo pergi dari sini...”
Semua Squard-ku membubarkan diri dan beranjak dari tempatnya masing-masing. Aku beranjak dari padang rumpt ini dan melangkah pelan menuju Snow Angelus.
Akhirnya pergi juga dari sini.
***

; Sebuah tempat di Selatan, 09.00 PM
[pergantian sudut pandang]

”Sepertinya yang mulia sedang linglung...” ucap seorang perempuan muda cantik di meja pertemuan. Tangannya menumpukan kepalanya yang anggun, dan ucapannya halus. Rambut ikal hitamnya terjulur indah menutupi bahunya, dibiarkan alami tanpa aksesori tambahan. Wajahnya teduh, diam dan senyumnya manis menggoda. Terlihat sekali bahwa ia berperangai lembut.

Di depannya, ada seorang remaja laki-laki yang duduk dengan malas-malasan. Ia meletakan kakinya di atas meja dengan santai, sesekali memandang jauh ke dalam jendela yang terbuka di depannya, angin menggerakkan ranting-ranting pohon, bergesek membuat melodi alam yang berpadu manis dengan semilir angin dan suara seekor burung gagak yang menjerit-jerit kesepian, menyanyikan lagu deritanya yang tak didengar oleh siapapun, sendirian. Langit gelap mendebarkan, menyimpan berbagai sugesti akan apa yang ada di kelamnya langit. Beberapa bintang menyembul seperti berlian yang dijatuhkan dewa langit, betebaran berkelip-kelip minta diperhatikan bulan, yang sepertinya acuh tak acuh dengan bintang dan terus mencari matahari, sang pujaan hatinya yang kunjung tak ia temukan seumur hidupnya.

”Gelap dan nihil” jawab sang pemuda tadi, masih melamun. ”Kemunduran dan kekalahan, nestapa dan petaka”

Sang perempun tertawa ringan. Ia melanjutkan lamunannya dan memandang jauh menembus jendela seperti orang yang ada di depannya.

”Ed,” tiba-tiba perempuan tadi memanggil laki-laki yang ada di depannya. ”Sampai kapan kita menunggu saat ini selesai?”

Angin kembali menderu. Sang laki-laki tadi memandang gadis yang ada di depannya, menghela nafas.

”Sampai impian kita tercapai” bisiknya.

Gadis tadi mendengarnya dalam diam. Ia sudah sering mendengar kekasihnya hanya berbicara ‘Sabar. Sebentar lagi impian kita tercapai’. Namun ia sudah capai menunggu.

“Kapan waktu itu datang? Selama ini aku hanya bisa berharap...” ia tetap memandang menembus jendela dengan tenang. “Menunggu itu menyakitkan…”

“Masalahnya, Gama Cyber saja belum disentuh oleh yang mulia…” Laki-Laki tadi berucap sangsi. ”Kita hanya bisa menunggu...”

”Edgar...” perempuan muda tadi memotong kalimat kekasihnya. Ia menunduk, sekarang memalingkan diri dari jendela. ”Apakah kita masih akan bersama, sampai waktu itu datang?”

Sang Laki-laki hanya memandang kekasihnya nanar. Ia beranjak dari kursinya, perlahan meletakkan tangannya di atas pundak kekasihya, menunduk dan berbisik ”Aku jamin, kita akan bersama terus hingga waktu itu datang. Oke?”

Sang perempuan hanya tersenym memaksa. Ia bangkit, membiarkan tubuhnya dipeluk erat kekasihnya. Ia memandang langit malam lagi, mendesah.

Ingin rasanya ia datang menghampiri tiga Gama Cyber lainnya, menghabisinya dan menyeretnya ke depan yang mulia.

”...Scar Path Cyber sudah terlalu lama menunggu...”:

***


Setelah sebulan absen, akhirnya chapter 11 selese juga....
Agak sulit ngerampunginnya, karena sang pengarang harus melewati beberapa ujian mengesalkan dan menyita banyak waktu (UAS... DASAR UAS GEMBEL...)
Enjoy it, dan semoga taun baru akan lebih baik!!

Mwd :)

1 toughts:

Anonymous said...

akhirnya keluar juga...

-qrn-

Post a Comment